Monday, May 20th

Last update04:00:00 PM GMT

Headlines
You are here Pendidikan ISI Padangpanjang Peringati Dies Natalis ke-45

ISI Padangpanjang Peringati Dies Natalis ke-45

E-mail Print

Padangpanjang, (ANTARA) - Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang merayakan Dies Natalis ke-45 dengan menggelar berbagai kegiatan.

Rektor ISI PAdangpanjang Prof Dr Mahdi Bahar, Rabu (21/12), pada acara pembukaan mengatakan Dies Natalis ini adalah yang pertama sejak ISI Padangpanjang berubah status dari STSI.

“Melalui kegiataan ini akan membangun citra kampus ini sebagai milik bangsa di negeri ini bukan milik etnis tertentu,” katanya.

Dia menambahkan, kegiatan ini juga sebagai ajang kreativitas seniman dalam melakukan apresisasi dan silaturahim.

Selain kegiatan seremonial, seperti pengukuhan Dewan Penyantun yang telah terbentuk beberapa waktu lalu, juga sebagai apresiasi terhadap seluruh kesenian yang terdapat di Nusantara.

Hari ini ISI Padangpanjang genap berusia 45 tahun, sebuah pencapaian yang sangat penting bagi suatu perguruan tinggi yang bergerak di bidang seni.

Untuk merayakannya-pun perlu persiapan yang matang dan variasi acara yang membawa pembaharuan bagi dunia kesenian. Untuk itulah, pihak panitia dan segenap civitas akademika ISI Padangpanjang menyusun rangkaian agenda sejak jauh hari.

Sekretaris panitia Rozalvino menungkapkan, diesnatalis tahun ini diisi dengan kegiatan lomba mural, desain cenderamata, lomba tari inovasi, lomba dongeng.

Selain itu, juga dilaksanakan pertunjukan tradisional, seperti kolaborasi Gandang Tambua (Nedy Winuza), Reog Ponorogo, Randai Siti Baheram, Barongsai (asosiasi Dragon n Lion Dance Team), Malacca Ensamble (Hendri Lamiri), Sirangkak Batuang (Syahril Alek), Gamad Parinyo (Rizaldi), dan Saluang Kacapi (Sanggar Ampang Wisata).

Yang tidak kalah menariknya pertunjukan Komunitas Seni Kuflet Padangpanjang bertajuk Didong (seni tradisi gayo) melalui musik tubuh melakukan kolaborasi dengan Rafli Kande penyanyi Aceh yang jam terbangnya kelas internasional yang cenderung mempergunakan musik etnik dan gerak seudati.

"Ditambah lagi dengan adanya penyair Sulaiman Juned dalam kolaborasi tersebut membacakan puisinya dengan hentakan-hentakan kekayaan lokalitas ke-aceh-an.” katanya.(antara/kominfo)